Jumat, 13 Februari 2015

Permohonan Maaf Untuk Matahariku

Pagi ini aku kembali terbangun karena kehadiranmu dalam alam bawah sadarku. Kulirik jam yang bertengger di meja belajar, ini masih terlalu pagi untuk bisa dikatakan pagi. Aneh, kenapa kamu malah muncul dalam mimpiku? Apa mungkin karena aku terlalu rindu pada dirimu? Setelah sekian lama kita tak jumpa dan hanya bertegur sapa melalui dunia maya, itupun masih bisa dihitung dengan jari. Mungkin wajar bila aku merasa kehilangan sosokmu itu. Liburan semester kali ini terasa amat menyiksa, aku harus menahan semua yang kurasakan. Berusaha untuk tidak menghubungimu, berusaha untuk mengabaikanmu, apapun itu yang berkaitan denganmu, aku telah berusaha untuk tidak peduli.

Maaf. Karena saat terakhir kali kita bertemu dikampus, aku mengabaikan dan bersikap tak peduli padamu. Saat itu, aku hanya terlalu terkejut. Aku tidak menduga, kalau semuanya jadi begini. Selama dua semester aku berada disisimu, kita terlihat begitu dekat hingga teman-teman sekelas mengira kalau kita menjalin hubungan. Dua semester... Selama itu pula, aku merasakan kamu menjadi matahari dalam kehidupanku.

Maafkan aku...

Rasanya aku telah mengenalmu lebih. Mengetahui kisah masa lalumu, masa kecilmu saat duduk di taman kanak-kanak yang selalu kamu habiskan hanya untuk bermain hingga dimarahi orangtuamu, masih banyak hal tentangmu yang kucatat dalam memoriku. Tapi nyatanya aku justru tak tahu tentang hal yang satu itu, hal yang membuatku merasa  sangat bodoh dan bersalah. Ya, benar. Kamu selalu menceritakan semuanya padaku, tapi tidak untuk yang satu itu. Mengapa bibirmu itu bungkam untuk hal yang satu itu? Hah, mengapa?

Bagaimana bisa, aku tidak tahu tentang hal itu? Selama kita saling mengenal, kamu adalah pendengar setiaku. Dan rasanya, saat itu aku juga sudah menjadi pendengar yang baik untukmu. Apa telingaku ini melewatkan sebuah kalimat penting? Aku hanya tahu gadis yang kamu suka, gadis yang bisa membuatmu membeku saat melihatnya. Seingatku, kamu hanya menceritakan gadis itu, dan tidak ada gadis lainnya. Iya, kan? Mungkin, saat itu kamu lupa mengatakan dan mengenalkan kekasihmu itu padaku. Tapi, kurasa tidak. Bukankah aku telah mengatakannya padamu, jauh sebelum aku tahu tentang semua ini. Apa kamu ingat? Saat itu aku mengatakan padamu, jika suatu saat kamu memiliki kekasih. Aku harap, aku adalah orang pertama yang tahu tentang kabar baik itu. Ah, sudahlah... mungkin kamu lupa. Atau mungkin kamu sebenarnya ingat, tapi sengaja menyembunyikan semua ini dariku? Entahlah. Kalau kamu membaca ini, kuharap kamu mengingat peristiwa hari itu, dan kurasa kamu pasti mengingat semua yang kamu ucapkan saat itu.

Maaf juga karena setelah mengetahui itu semua, aku selalu berusaha menghindarimu dikelas. Menjaga jarak, bahkan menyapamu saja rasanya sulit kulakukan. Harusnya, aku tidak bertindak sebodoh itu. Tapi, kalau aku tetap menempel padamu, aku juga merasa menjadi orang yang lebih bodoh lagi. Sudah sewajarnya jika aku menarik diri dari kehidupanmu. Aku ini juga perempuan dan aku tak ingin menyakiti perasaan kekasihmu. Wajar kan, kalau aku sempat marah padamu karena tak jujur tentang kekasihmu itu? Untuk apa kamu berbohong padaku? Untuk apa? 

Kebohonganmu itu yang membuat semuanya makin rumit. Kalau saja saat itu kamu berkata jujur, mungkin tidak akan seperti ini rasanya. Kebohongan itu juga yang membuat kita menjadi merasa asing, kan? Membuatku merasa canggung dan serba salah. Aku juga tak bisa terus menerus menghindari dan mengabaikanmu. Tapi, untuk kembali seperti dulu lagi juga tak mungkin. Entah. 




Untuk kamu, yang sempat menjadi matahari dalam hidupku


Tidak ada komentar:

Posting Komentar