Kamis, 12 Februari 2015

Mengimbangimu...

Malam ini aku kembali menatap langit yang penuh bintang, tetap sama indahnya meski hanya kunikmati seorang diri. Suara angin malam semakin membawa diriku kembali tenggelam dalam kenangan masa lalu. Masa saat kita masih bersama. Masa dimana kita hanya merasakan bahagia karena ledakan-ledakan cinta kita berdua. Masa saat semua yang kita lakukan terasa menyenangkan. Aku tersenyum kecil mengingat itu semua. Tak lama kemudian, aku tersenyum getir. 

Senyum itu masih tetap mengisi hariku, sampai pada suatu saat segalanya berubah. Tak ada lagi ledakan itu, bahkan letupan kecil pun tak juga muncul. Kamu dan aku bagaikan dua orang yang tak saling mengenal sebelumnya. Semuanya jadi datar. Abu-abu.
 
Aku semakin merasa jauh darimu, entah itu memang karena kamu seseorang yang super duper sibuk menenggelamkan diri dalam aktifitas atau mungkin ada alasan lain yang tak kutahu. Sebagai seseorang yang menyayangimu, aku hanya bisa mencoba untuk berpositif thinking. Oh iya, aku hampir saja lupa, kamu adalah si pintar dengan segudang prestasi, kan? Harusnya aku bisa lebih mengerti kamu. Harusnya aku bisa mengimbangimu. Dan aku harus terbiasa dengan sikap cuekmu ketika tak sengaja kita bertemu di koridor sekolah, kantin, ataupun saat di lab. Tanpa sadar, matamu itu diam-diam menoleh saat aku melewati ruang kelasmu. Ya, kalau boleh aku jujur, rasanya sangat tak menyenangkan jika harus seperti ini. Aku ingin mendapatkan penjelasan dari arti diam dan sikapmu belakangan ini.

Ketika aku mulai terbiasa denganmu yang seperti itu, barulah kamu datang. Aku masih ingat, suatu hari saat sekolah sudah mulai sepi kamu datang menghampiriku. Aku hanya diam, banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk dalam hati. Apa hanya dengan cara seperti ini kita bisa bertemu? Apa aku hanya bisa melihatmu  bersikap cuek seperti sebelumnya? Itulah pertanyaan yang selama ini aku pikirkan. Dan seakan kamu bisa membaca pikiranku, kamu tersenyum kecil padaku. Apakah aku bermimpi? Benarkah ini kamu? Ahrgg... rasanya seperti mimpi. Tapi ini nyata, aku bisa mendengar suara riangmu yang dulu sempat hilang, aku bisa merasakan jemari kita saling bertautan. Ini nyata, dan ini bukan mimpi. Melihatmu seperti ini, hanya bisa membuatku melengkungkan senyum. Tanpa aku minta terlebih dulu, kamu sudah melontarkan apa penyebab kamu seperti kemarin dan meminta maaf. 

Aku masih bungkam. Sedetik kemudian aku mulai membuka percakapan. Apakah dengan mengabaikanku terlebih dulu, kamu baru bisa menyelesaikan masalahmu itu? Tidak bisakah kamu membagi masalahmu itu padaku? Sesulit itukah? Seharusnya kamu memberitahu tentang kondisimu saat itu, supaya aku bisa mengimbangimu. Ingatlah, menjalin hubungan itu bukan sekedar menanyakan sudah makan atau belum saja. Tapi juga membagi kisah pada pasanganmu. Entah itu kisah yang membuatmu merasa senang atau sedih sekalipun. Kamu harus ingat itu! Aku juga minta maaf, kalau selama ini aku belum bisa mengerti dan mengimbangimu... 

Mendengar kalimat yang terlontar dariku, kamu menatap dalam bola mataku dan semakin mengeratkan jemariku dalam genggamanmu. Tetaplah disisiku, suara lirih itulah yang hanya bisa kudengar darimu. Setelah itu, kita berdua menyusuri lorong sekolah untuk pulang bersama.


Untuk kamu yang mungkin juga merasakannya...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar